Kegiatan

MENELUSURI SEJARAH MAKAM MBAH WALI KYAI SINDU, PENINGGALAN DAKWAH ISLAM DI PESAREN

 

Di Dusun Pucungkerep, Desa Pesaren, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, terdapat sebuah makam yang hingga kini masih ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah. Makam tersebut dikenal warga sebagai Makam Mbah Wali Kyai Sindu, yang dipercaya menjadi salah satu peninggalan sejarah penyebaran agama Islam di wilayah tersebut.

Menurut Saryadi, juru kunci makam generasi ketiga yang juga menjabat Ketua RT 4 Dukuh Pucungkerep, kisah mengenai Mbah Wali Kyai Sindu diperoleh secara turun-temurun dari para sesepuh desa. "Menjaga makam ini bukan hanya tanggung jawab, tapi juga amanah untuk melestarikan sejarah yang sudah menjadi bagian dari identitas masyarakat Desa Pesaren," tuturnya.

Sosok di Balik Makam

Tokoh yang dimakamkan di kompleks ini adalah Mbah Wali Kyai Sindusengoro, yang lebih dikenal masyarakat sebagai Mbah Kyai Sindu, bersama istrinya, Mbah Nyai Siti. Cerita yang berkembang menyebutkan Mbah Kyai Sindu berasal dari Yogyakarta, sementara Mbah Nyai Siti berasal dari Wonosobo. Keduanya datang ke wilayah ini untuk melanjutkan dakwah Islam sebagai pengikut (penderek) Sunan Kalijaga.

Mbah Kyai Sindu dipercaya datang bersamaan dengan dua tokoh lain yang juga penderek Sunan Kalijaga, yaitu Mbah Kyai Sari di wilayah Pesaren dan Mbah Kyai Dayun di Dayunan. Ketiganya diyakini berperan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Kendal bagian selatan, meski berdakwah di daerah masing-masing. Mbah Kyai Sindu sendiri tidak mendirikan padepokan maupun meninggalkan keturunan di Sindon, namun jasanya tetap dikenang hingga kini.

Mata Air yang Muncul dari Doa

Keberadaan Mbah Kyai Sindu juga erat kaitannya dengan sejarah kemunculan mata air di kawasan tersebut. Menurut cerita turun-temurun, wilayah ini pernah dilanda kemarau panjang hingga sawah-sawah mengering dan warga kesulitan mendapatkan air. Mbah Kyai Sindu kemudian memanjatkan doa dan bermunajat kepada Allah SWT, hingga munculah sebuah mata air yang kini dikenal sebagai Mata Air Sindon.

Mata air tersebut masih mengalir hingga sekarang, bahkan di musim kemarau, dan dimanfaatkan warga beberapa desa sekitar untuk kebutuhan air bersih maupun pengairan sawah. Kepala Desa Pesaren, Ngahadi, membenarkan cerita ini masih dipegang teguh oleh masyarakat. "Kisah ini memang telah lama dikenal dan dipercaya masyarakat setempat, sehingga mata air ini menjadi salah satu bukti sejarah yang memperkuat kisah perjuangan Mbah Kyai Sindu," ujarnya.

Jejak Peninggalan Lain

Selain mata air, terdapat pula batu yang dipercaya menjadi tempat Mbah Sindu bermunajat dan bertapa saat menyebarkan Islam. Batu tersebut masih berada di sekitar kompleks makam dan menjadi salah satu titik yang kerap dikunjungi peziarah.

Peninggalan lain yang dikenal masyarakat adalah tongkat pusaka bernama Kyai Sodowito. Konon, tongkat ini pernah ditancapkan sebagai "paku bumi" ketika tanah di wilayah tersebut retak akibat kemarau panjang, sebagai upaya menjaga wilayah tetap aman dari bencana. Tongkat itu kini sudah tidak dapat ditemukan, namun warga masih mengenali lokasi petilasannya di kawasan Pucungkerep.

Kawasan Sindon juga memiliki gua bernama Gua Sengorolanggu yang diyakini berkaitan dengan perjalanan dakwah Mbah Kyai Sindu. Sementara di wilayah Tamanrejo, dipercaya terdapat makam sejumlah pengikut beliau, di antaranya Mbah Ki Cokropati, Mbah Imam Ahmad Gozali, Mbah Kiai Ghofur, Mbah Waliyah Endang Sukati, dan Mbah Dewayani menunjukkan dakwah Islam kala itu dilakukan secara bersama-sama dan menyebar ke berbagai wilayah.

Legenda dan Sejarah yang Menyertai

Selain kisah dakwah, masyarakat juga mewariskan legenda seekor macan hitam bernama Bau Karang yang dipercaya sebagai pengikut Mbah Kyai Sindu. Setelah memangsa kerbau milik sang wali, macan itu disebut mendapat sabda hingga salah satu kakinya cacat, sehingga dikenal sebagai "macan pego". Meski tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, legenda ini tetap hidup sebagai bagian dari tradisi lisan warga.

Cerita turun-temurun juga menyebutkan bahwa kawasan Sindon dahulu merupakan permukiman, sebelum akhirnya warganya berpindah ke Pucungkerep dan Tamansari akibat bencana longsor yang menutup aliran sungai. Adapun asal-usul nama Desa Pesaren sendiri, menurut narasumber, lebih berkaitan dengan tokoh Mbah Kyai Sari, bukan Mbah Kyai Sindu.

Tradisi Nyadran hingga Ziarah dari Luar Daerah

Hingga kini, masyarakat rutin menggelar nyadran atau haul setiap bulan Bodo Mulud sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, diisi dengan doa bersama, pengajian, hingga kesenian tradisional seperti jatilan dan jaranan.

Makam ini pun terbuka bagi siapa saja yang ingin berziarah. Tak hanya warga sekitar, peziarah juga datang dari Semarang, Jepara, Jakarta, Bantul, Tangerang, hingga Banten untuk bertawasul dan berdoa memohon keberkahan, kesehatan, serta kelancaran rezeki.

Perawatan makam dilakukan secara gotong royong oleh juru kunci bersama warga. "Menjaga makam ini bukan sekadar merawat bangunan fisiknya, tapi juga menjaga warisan sejarah dan budaya dari para leluhur," kata Saryadi. Ia berharap, dokumentasi sejarah Makam Mbah Wali Kyai Sindu melalui media digital seperti website desa dapat membuat generasi muda tetap mengenal perjuangan para penyebar Islam di daerahnya sekaligus melestarikan nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.

 

Narasumber: Ngahadi (Kepala Desa Pesaren) dan Saryadi (Juru Kunci Makam dan Ketua RT 4 Dusun Pucungkerep).

 

Share :